Thursday, June 14, 2007

Aceh Lon Sayang (4)?

Kuberikan tanda tanya dibagian akhir dari sekuel kisahku di Aceh. Apakah ini masih Aceh yang kusayang di bulan-bulan pertama aku datang?

Bagaimana aku bisa me-manage stressku di Aceh? Aku juga tidak merasa nyaman melakukan kegiatan favoritku kalau lagi stress. Kalo aku merasa sangat berbeban, baik kerja maupun pribadi, biasanya aku menyusuri jalan, menikmati kehidupan sehari-hari yang kulihat ketika berjalan sambil mendengarkan musik, dan kemudian diakhiri dengan duduk di mana tempat, sendiri sambil membaca dan makan.

Yang tidak bisa kulakukan di Aceh. Aku pernah melakukannya, yang berakibat tidak mengenakkan. Disuit-suitin, bahkan 'ditawar'. Padahal aku sudah mengenakan pakaian yang serba panjang, hanya saja tidak menggunakan jilbab, yang kadang aku ganti dengan memakai topi jaketku.

Pada akhirnya, untuk menghilangkan rasa bosan, selain bermain ke sana ke mari dengan temen-temen (yang sejujurnya, kalo lagi bete, aku lebih suka sendiri) dan pulang ke Medan (yang membuat aku makin bete, karena uang makin banyak habis).

Seandainya saja Aceh bisa sedikit lebih bersahabat dengan 'orang yang berbeda', mungkin akan lebih menyenangkan. Jalan sendiri di siang hari tanpa mengenakan jilbab kan bukan berarti aku perempuan tidak baik. Toh semua bajuku tertutup rapat. Terus, kenapa harus 'ditawar'? dan ternyata tidak hanya aku yang mengalami. Bahkan temenku yang jalan dengan 2 temen cowonya, mendapat perlakukan sama.

Well, aku mau bilang sama seseorang yang bilang, aku akan dapat banyak pelajaran di Aceh, bener, aku dapat. Bahwa, di samping orang baik, selalu ada orang yang tidak baik. Seberapapun baiknya hukum, tetap aja ada orang yang tidak menghormati perbedaan.

Tuesday, June 05, 2007

Aceh Lon Sayang (3)

Mengingat hal-hal yang terjadi selama di Aceh ketika aku tidak lagi di sana...

Dalam banyak hal, aku belajar banyak sekali hal baru di Aceh. Budaya masyarakat... steoreotipe masyarakat Aceh dan belajar melaksanakan program di sana.

Sejujurnya tidak semua aku suka. Kadang aku merasa terlalu terkungkung dengan peraturan syariah yang sangat ketat di sana. Mungkin karena aku belum biasa. Kadang, pengen juga pake baju ketat, jalan sendiri atau apalah yang biasa aku lakukan di jakarta. Sesuatu yang langka di sini.

Terlepas dari itu semua, aku menyukai tantangan2 yang aku temukan selama ini. Masyarakat yang menerima, yang menolak, menuduh kristenisasi, mempertanyakan kenapa aku pake kerudung, menyuruhku pake kerudung... satu dan yang lain saling bertentangan.

Dua tahun, pengalaman yang memperkaya tinggal di Aceh.

Ya, Aceh Lon Sayang

Sunday, June 04, 2006

Aceh Lon Sayang (2)

Siapa bilang orang Aceh jahat-jahat? Ga suka sama pendatang?

Aku punya banyak temen Aceh sekarang. Mereka baik-baik. Membantu setiap kali aku membutuhkan. Mereka yang mengajariku beberapa kata Bahasa Aceh. Mereka juga yang membantuku setiap kali aku kesulitan memulai program di wilayah tertentu. Pendeknya ,ereka tidak suka menyulitkan seperti beberapa temanku katakan sebelum aku menginjakkan kaki di sini.

Masyarakat yang aku layani juga menyenangkan. Mereka mengerti kok, kalo aku ga pake jilbab, itu karena aku kegerahan dan belum terbiasa. Mereka juga mengerti kalo aku hari Minggu harus beribadah, jadi kegiatan bisa dimulai duluan, karena aku akan menyusul setelah pulang ibadah.

Masyarakat yang aku layani juga ga aneh-aneh. Ibu-ibu di lambaro, dengan senang hati menerima bantuan yang kami tawarkan. Mengelolanya dengan sangat baik. Aku senang ketika saat ini melihat mereka sudah jauh lebih maju, dapat mengelola usaha dengan baik.

Ada pula bapak-bapak nelayan. Kalian mungkin tidak membayangkan betapa senangnya melihat mereka berbinar-binar menerima bantuan perahu yang kami berikan. Mesin yang kami distribusikan diterima dengan ucapan allhamdulillah.

See?? Siapa bilang mereka ga tahu terima kasih?? Siapa bilang mereka bikin repot? Mereka menyenangkan kok.

Aku mulai menikmati tinggal di sini, dan mulai mengerti kata kata 'Aceh Lon Sayang'.

Friday, June 02, 2006

Aceh Lon Sayang (1)

Aceh lon sayang, artinya Aceh yang kusayang.

Itu kata-kata yang sering aku dengar ketika pertama kali aku menjejakkan kakiku di negeri serambi mekkah ini. Aku belum terlalu menikmati arti kata itu.

Apanya yang sayang? Motivasiku di sini awalnya adalah karena pertama, aku bosan dengan pekerjaanku di Jakarta, aku butuh pembaharuan, kalau tidak aku akan jadi katak dalam tempurung. Kedua, karena bossku tidak suka aku pindah dari proyek ini dan dari posisi ini, maka aku mulai melayangkan surat lamaran ke beberapa tempat. Ketiga, karena memang waktu itu banyak lowongan untuk Aceh (maklum, baru 1,5 bulan pasca tsunami), aku coba2 melamar.

Diterima. Sampailah aku di sini. Sejuta ragu dan gentar. Meski Abang Bos (jadi ada dua boss di kantorku yang lama), Pak Boss dan Bang Boss. Pak Boss tidak mengijinkanku pergi, kebalikannya, bang boss justru mendorongku untuk ke Aceh.

"Kamu akan belajar banyak. Kamu akan membuktikan bahwa apa yang banyak orang katakan itu tidak benar. Abang yakin kamu mampu."

Berbekal dari peryataan itu, berbekal restu orang tuaku, aku berangkat.

Menginjakkan kaki di bandara Sulthan Iskandar Muda, aku masih belum percaya aku di sini. Aku masih berpikir, kalo Desember 2005 aku akan kembali ke Jakarta. Yang penting sudah sampai Aceh.

Aceh Lon Sayang... masih belum masuk dalam hatiku.