Aceh Lon Sayang (4)?
Kuberikan tanda tanya dibagian akhir dari sekuel kisahku di Aceh. Apakah ini masih Aceh yang kusayang di bulan-bulan pertama aku datang?
Bagaimana aku bisa me-manage stressku di Aceh? Aku juga tidak merasa nyaman melakukan kegiatan favoritku kalau lagi stress. Kalo aku merasa sangat berbeban, baik kerja maupun pribadi, biasanya aku menyusuri jalan, menikmati kehidupan sehari-hari yang kulihat ketika berjalan sambil mendengarkan musik, dan kemudian diakhiri dengan duduk di mana tempat, sendiri sambil membaca dan makan.
Yang tidak bisa kulakukan di Aceh. Aku pernah melakukannya, yang berakibat tidak mengenakkan. Disuit-suitin, bahkan 'ditawar'. Padahal aku sudah mengenakan pakaian yang serba panjang, hanya saja tidak menggunakan jilbab, yang kadang aku ganti dengan memakai topi jaketku.
Pada akhirnya, untuk menghilangkan rasa bosan, selain bermain ke sana ke mari dengan temen-temen (yang sejujurnya, kalo lagi bete, aku lebih suka sendiri) dan pulang ke Medan (yang membuat aku makin bete, karena uang makin banyak habis).
Seandainya saja Aceh bisa sedikit lebih bersahabat dengan 'orang yang berbeda', mungkin akan lebih menyenangkan. Jalan sendiri di siang hari tanpa mengenakan jilbab kan bukan berarti aku perempuan tidak baik. Toh semua bajuku tertutup rapat. Terus, kenapa harus 'ditawar'? dan ternyata tidak hanya aku yang mengalami. Bahkan temenku yang jalan dengan 2 temen cowonya, mendapat perlakukan sama.
Well, aku mau bilang sama seseorang yang bilang, aku akan dapat banyak pelajaran di Aceh, bener, aku dapat. Bahwa, di samping orang baik, selalu ada orang yang tidak baik. Seberapapun baiknya hukum, tetap aja ada orang yang tidak menghormati perbedaan.
